"Patah Untuk Bersinar"
Oleh:
Kanya Trias
Manusia hanya bisa mengukir takdir. Kita
tidak pernah tahu peristiwa apa yang akan menghampirinya, yang pasti Tuhan
punya rencana besar atas segala ketetapan yang telah digariskan-Nya. Mungkin
Tuhan menginginkan aku menjadi sosok wanita yang tangguh dan mandiri, tidak
mudah menitikkan air matanya hanya untuk hal yang sia-sia.
Rania seorang gadis desa berusia 17 tahun,
berparas manis dan berlesung pipit. Sangat pintar dan memilikin banyak
prestasi. Namun sayang sepeninggal ayahnya, ia harus berjuang menjadi tulang
punggung keluarga untuk membantu meringankan beban ibunya. Sebagai seorang anak
yang terlahir dari keluarga tidak mampu, menurut kebanyakan orang cita-citanya
memang terlalu tinggi, dan hal ini tak ayal mendapatkan cibiran dari
orang-orang terdekatnya bahkan saat kumpul keluarga seringkali ia menjadi
bulan-bulanan mereka. Hidup memang begitu, kebanyakan orang lebih asyik
mengurusi kehidupan orang lain ketimbang memperbaiki hidupnya sendiri.
"Bude dengar kamu mau kuliah ya? Serius
kamu mau kuliah? Ga kasihan apa kamu sama mendiang bapakmu yang penyakitan itu.
Wong buat makan aja susah, kadang masih minjem sana-sini. Utang sama budemu ini
udah gak keitung jumlahnya. Ini lagamu kaya orang berada saja, pake mau kuliah
segala. Kamu itu harusnya cari kerja, jadi TKW biar bisa lunasin utang
bapakmu." ucap bude Arni.
"Ibumu juga hanya buruh cuci baju.
Itupun jika ada menyuruhnya. Kamu yakin dia mampu membayar uang kuliahmu?
Makanya kalau berkhayal pikir-pikir dulu jangan ketinggian.” timpal Wilda
sambil memegang bulu mata barunya yang baru ia pasang di salon Mba Marni. Wilda
adalah sepupu perempuan Rania yang usianya terpaut 3 tahun. Hanya saja nasib
baik lebih berpihak padanya. Ia kini sudah menjadi karyawan di sebuah bank
swasta.
Rania tak ingin menjawab apalagi menyela
perkataan mereka. Ada perasaan teriris dalam rongga hatinya. “Beginikah
nasib seorang miskin? Tak layakkah aku menyulam mimpiku sendiri?” gumam Tania
dalam hatinya.
Pagi ini ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya lebih awal. Karena
hari ini adalah hari dimana Rania harus bertemu dengan adik-adik kecilnya.
Beberapa orang tua di kampung meminta agar ia membantu memberikan pelajaran
tambahan untuk anak-anaknya. Tanpa pikir panjang Rania langsung menerima
tawaran mereka.
Memang di masa pandemi seperti ini, banyak orang tua yang kewalahan
dalam mendampingi anak-anaknya belajar daring. Jangankan mengoperasikan HP
android dengan berbagai macam aplikasi pembelajaran seperti zoom, google
classroom, youtube, quizizz, dan lain sebagainya. Untuk sekedar mengirim SMS
saja mereka seringkali kerepotan. Maklum rata-rata dari mereka hanya tamatan SD
atau SMP, jadi bukan dunia mereka untuk
berhadapan dengan yang namanya smartphone.
Selepas dari SMA Rania memang banyak memiliki waktu luang, jadi tak ada
salahnya berbagi ilmu pengetahuan. Selama ia bisa mengajarkan hal yang lebih
baik dan bermanfaat, mengapa tidak. Mudah-mudah-mudahan ini bisa menjadi ladang
pahala baginya.
Papan tulis kecil ia letakkan di depan dinding kamar, lalu ia gelar
tikar dan menyiapkan beberapa meja lipat yang kemarin sempat anak-anak bawa
dari rumahnya. Jika semuanya sudah siap, jadi nanti anak-anak tinggal duduk
manis dan memulai kegiatan belajarnya. Namun lagi-lagi apa yang ia lakukan kali
ini mendapatkan cibiran dari keluarganya.
“Hei Rania, kamu pikir dengan menjadi guru les begini bisa membayar
utang-utang mendiang bapakmu! Lagi pula kaya yang becus aja kamu ngajar
anak-anak ini. Yang ada nanti pemikiran merreka malah jadi sesat kaya kamu.
Jadi tukang ngimpi” dengus Wilda dengan
nada tingginya.
“Eh kak Wilda, baru pulang kerja kak.” Rania mencoba membalas umpatan Wilda dengan sapaan baik. Wilda hanya
melengos berlalu dari hadapan Rania tanpa sepatah kata pun.
Tak terasa bulir-bulir putih jatuh dikedua pipinya yang mulus. Berkali-kali
ia seka, namun setetes demi setetes butiran jernih dari ujung mata itu kembali
berderai. Rasa perih dihati menekan dadanya berkali-kali, berharap kepedihan
yang selama ini ia sembunyikan segera memudar.
“Assalamualaikum Kak!”
Kedatangan anak-anak manis menghentikkan tangisnya. Rania beranjak dari duduknya,
mengusap wajahnya dengan kasar dan merapikan kedurungnya yang sempat basah saat
menyeka tangisnya.
“Hai adik-adik, silahkan masuk, duduk dengan manis dan jangan lupa baca
doa terlebih dahulu. Supaya ilmu yang kita peroleh hari ini mendapat keberkahan
dari Allah SWT. Tetap perhatikan prokesnya ya, jangan lupa pakai masker, jagar
jarak dan dan cuci tangannya pakai sabun.”
“Sudah kak, tadi sebelum masuk kami cuci tangan dulu bergantian”
Teriakan lucu dan senandung merdu yang dilantunkan oleh anak-anak kecil
itu semakin membuat desa Rania menjadi hidup. Kebiasaan anak-anak yang semua
berjejer dengan memegang gadget dan bermain game online kini berubah drastis
setelah kesediaan Rania mengajar mereka. Anak-anak terlihat lebih bersemangat
dalam belajar saat pandemi ini.
Rupanya apa yang dilakukan Rania akhir-akhir ini menarik simpati seorang
laki-laki paruh baya yang memiliki jabatan penting di Dinas Pendidikan. Namanya
Pak Rudi, ia sempat bertanya pada beberapa orang tua tentang siapa dan
bagaimana Rania. Kepribadian dan kegigihan Rania membuat pak Rudi merasa
takjub.
Jam les selesai, beberapa anak ada yang menggulung tikar dan melipat
meja belajarnya, lalu merapikan semua peralatan belajar mereka. Sesudah selesai
mereka pamit kepada Rania. Senyum dan raut bahagia terpancar dari wajah Rania.
Dibalik kesedihannya, kini ia merasa hidupnya lebih bermakna.
***
Nasi panas, tempe goreng dan sambal goang sudah tersaji di meja. Ibu
sudah menunggu Rania di atas dipan tempat mereka makan. Sesudah mencuci tangan
Rania dan ibu langsung menyantap makan siangnya. Makanannya memang sangat
sederhana, tapi kebersamaan yang ada diantara mereka selalu menjadi bumbu
kesederhanaannya.
Saat mereka sedang menikmati makan siangnya. Brak pintu dapur rumah
mereka terbuka. Dengan wajah kecut bude Arni menghampiri kami tanpa basa-basi. Sambil
menggebrak dipan tempat kami makan dia berkata:
“Heh, Wati, aku beri kamu waktu 3 hari untuk melunasi utang-utang mediang
suamimu. Jika tidak, maka rumah ini akan jadi jaminannya. Lewat dari 3 hari,
tak ada alasan lagi berarti kalian harus pergi dari rumah ini. Paham!”
Tanpa memberikan kami kesempatan untuk mejawab Bude Arni pergi begitu
saja. Pintu belakang rumah mereka yang hanya terbuat dari beberapa lembar papan
bekas itu pun akhirnya roboh juga, setelah dibating sekuat tenaga oleh Bude
Arni. Rania tak paham mengapa ia sebegitu bencinya dengan keluarganya.
Selera makannya menjadi hilang seketika. Dadanya terasa sesak, aliran
dalam darahnya terasa panas, baru saja ia hendak melangkah menyusul bude Arni,
tiba-tiba tangan ibu menahannya.
“Untuk apa kau menyusulnya, toh memang kita yang salah, berutang padanya
dan belum mampu membayar. Janagan sia-siakan amarahmu, nak. Itu tidak baik.”
Namun tak lama dari itu, pertahanan ibu rubuh. Perempuan bermata sayu
itu memegang dadanya, ia terlihat begitu kesakitan. Rania terlihat begitu
panik, rupanya penyakit jantung ibunya kambuh. Ia keluar rumah untuk meminta
bantuan. Namun saat kembali, ia melihat ibunya sudah jatuh tersungkur disudut
dipan. Mantri desa datang dan memeriksa ibu, Rania mencoba membangunkan ibunya,
namun semua sia-sia. Allah ternyata berkendak lain, Ia lebih menyayangi ibu,
merenggutnya dalam waktu yang sangat cepat. Tangis Rania pecah seolah
mengguncang seisi kampung itu. Ia tak menyangka mengapa musibah ini datang
bertubi-tubi pada dirinya, terlebih penyebab kematian ibunya datang dari
keluarganya sendiri.
Pa Rudi, istrinya dan para tetangga datang melawat ke rumah Rania. Bu
Ratih istri pa Rudi memeluk Rania erat, mengusap lembut dan mengecup kening
Rania seraya berkata
“Yang sabar ya Rania sayang, kamu jangan takut, ada ibu dan bapak disini
yang akan menjaga kamu, yang akan mewujudkan mimpi-mimpi kamu dan ibumu. Ibu
kamu orang baik insyaAllah surga menantinya. Kami juga akan melunasi semua
hutang mendiang ayahmu.”
Kali ini tangis Rania kembali pecah, bukan hanya tangis kepedihan, namun
bercampur tangis haru dan kebahagiaan. Ia memeluk erat bu Ratna, berkali-kali
mengucapkan kata terima kasih. Entah ucapan apa lagi yang harus ia sampaikan
pada kedua malaikat ini, yang pasti do’a-do’a baik akan selalu terucap dari
mulut Rania untuk keluarga pak Rudi.
Ternyata beberapa hari lalu pak Rudi dan istri sempat datang menemui bu
Ratna untuk meminta Rania bekerja di Kantornya, dan pak Rudi berjanji akan
membiayai kuliah Rania sampai Jenjang S2. Semua itu pak Rudi lakukan karena dia
tahu cita-cita dan mimpi Rania yang sempat ditentang oleh Keluarga besarnya.
Karena Rania dianggap tak pantas untuk sekedar melanjutkan kuliah, padahal
prestasi Rania sudah banyak mengharumkan nama sekolah dan dinas Pendidikan.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKak cerpen kakak bagus, menyayat hati, tapi menimbulkan semangat bahwa jangan pernah putus asa untuk cita cita, tetap mengukir prestasi, tetap berkarya dan jangan pernah menyerah dengan keadaaan apapun, karna ternyata selalu ada Allah tuhan yang maha Esa dan punya jalan cerita indah di balik kesedihan hidup ini.
BalasHapusTapi kak saya ingin bertanya tentang sosok Ibu Ratna, dari pengamatan yang saya baca dari paragraf ke 2 terakhir ada kalimat “tangis Rania kembali pecah, bukan hanya tangis kepedihan, namun bercampur tangis haru dan kebahagiaan. Ia memeluk erat bu Ratna, berkali-kali mengucapkan kata terima kasih.” Di dalam paragraf ini menurut pengamatan saya bahwa ibu Ratna adalah istri Pak Rudi.
Namun pada paragraf terakhir terdapat kalimat “Ternyata beberapa hari lalu pak Rudi dan istri sempat datang menemui bu Ratna untuk meminta Rania bekerja di Kantornya” jadi Kak sosok bu ratna ini siapa ? apakah Istri Pak Rudi, atau sosok orang lain?
Terimakasih
ditunggu kelanjutannya ya...
Hapus